Pada dasarnya tinggi hati adalah sikap merasa diri cukup, benar, dan lebih dari orang lain. Dalam penggembalaan, tinggi hati sering muncul secara halus. Seseorang bisa merasa sudah lama melayani, sudah mengerti firman, sudah berpengalaman, sehingga sulit menerima arahan. Ia mungkin tidak mengucapkannya, tetapi sikapnya menunjukkan penolakan terhadap koreksi.
Tinggi hati membuat seseorang sulit diajar. Ia mendengar firman, tetapi tidak merasa itu untuk dirinya. Ia ditegur, tetapi segera membela diri. Ia melayani, tetapi mengharapkan pengakuan. Tanpa disadari, pelayanan berubah menjadi ajang pembuktian diri, bukan lagi ungkapan kasih kepada Tuhan. Sebaliknya, orang yang mau bertumbuh harus berani memeriksa hatinya.
Yakobus 4:6 berkata, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Ayat ini menunjukkan bahwa pertumbuhan rohani dalam penggembalaan sangat ditentukan oleh sikap hati. Seseorang bisa aktif melayani, terlibat dalam banyak kegiatan gereja, tetapi tanpa kerendahan hati, ia sulit benar-benar bertumbuh.
Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa kita membutuhkan Tuhan dan membutuhkan bimbingan. Orang yang rendah hati mau diajar, mau ditegur, dan tidak merasa dirinya selalu benar. Ia menyadari bahwa kasih karunia Allah bekerja dalam hati yang lembut. Sebaliknya, kesombongan membuat seseorang menutup diri terhadap nasihat dan koreksi, bahkan menempatkannya dalam posisi berlawanan dengan Tuhan.
Sikap rendah hati bukanlah kelemahan. Namun tanda kekuatan hati yang siap untuk dibentuk oleh Tuhan. Sebab itu orang yang rendah hati akan sadar bahwa dia manusia biasa yang tidak sempurna dan selalu membutuhkan bimbingan dari Tuhan.
Dalam penggembalaan, proses pembentukan sering kali tidak nyaman. Ada teguran, ada arahan, ada perubahan yang harus dilakukan. Namun justru melalui proses itulah Tuhan menumbuhkan kedewasaan rohani. Orang yang rendah hati tidak melihat teguran sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana pertumbuhan.
Bertumbuh dalam penggembalaan berarti terus menjaga hati agar tetap tunduk kepada Allah. Semakin seseorang dewasa rohani, seharusnya semakin ia rendah hati. Sebab ia sadar bahwa semua yang dimiliki adalah karena kasih karunia Tuhan.
Kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan tanda bahwa seseorang siap dibentuk dan dipakai Tuhan lebih jauh lagi.